Jatuh Terlalu dalam
Sore ini tidak seperti biasanya. Ketika sedang berjalan keluar dari gedung fakultas, kulihat jemarimu saat sedang berjalan menuju salah satu gedung di kampus. Mendadak tubuhku bergerak sendiri untuk menghindar supaya tidak terlihat olehmu. Walaupun hati berusaha untuk tetap melihatmu tetapi raga ini menolak untuk terlihat.
Mata coklat yang terang, senyum manismu saat tertawa bahkan hal hal kecil saat dirimu memperbaiki pakaianmu serta gaya pakaianmu yang selalu modis masih terlihat sama persis dari terakhir kali kulihat mu.
kebetulan jalan yang dia dan aku lewati dekat dengan tempat biasa kami bersama. Ntah untuk menjemput mu, sekadar mendatangimu ataupun melihatmu melakukan kegiatanmu.
Kembali kemasa kini dimana aku telah usai bersama dengan dia. Aku melewati kegiatan kampus sampai malam. Saat hendak melewati jalan itu, ku lihat sekeliling dan untuk sejenak aku teringat memori itu dengan jelas. Walau saat ini aku sudah memiliki orang baru yang bersama ku, rasa kehilangan ini mendadak tumbuh kembali saat kulihat dirimu tadi. Rasa ini kutahan dan kututup dengan rapat. Meski kutemui pasanganku, rasa kehilangan ini tetap menggerogoti seperti virus yang melahap tubuhku secara perlahan. Kucoba untuk melepaskan rasa itu walau terkadang rasa itu tak kunjung mereda. Demi hubungan yang kujalani saat ini, kukenakanlah topeng.
Semakin lama, topeng yang kupakai semakin tebal terhadap pasangan ku. Waktu berlalu, dan semakin lama semakin tebal dan akhirnya wajah ini tak kuat menahan ketebalan topeng hingga akhirnya retak. Demi menutupi rasa ini, ku berlari dan menyembunyikan diri untuk sejenak. Rasa bersalah dan rasa kosong bertengkar hebat di dalam hati seakan ingin membuktikan siapakah yang lebih benar. Semakin larut dengan itu semakin ingin memberontak. Hingga akhirnya pecah dan membuat semua terbengkalai.
.
.
.
.
.
.
.
Bagaikan boneka yang menunggu digerakan dan dimainkan, tubuh ini semakin lemah karna hati yang tak kunjung menemukan jawaban.
"Aku tau ini salah"
"Aku masih ingin dia"
"Yang sudah usai cukup menjadi cerita"
"Dia yang membuatku mengerti arti sebuah hubungan yang membahagiakan"
"Jodoh ditangan Tuhan, berjalan saja dulu, pasanganmu menunggumu"
"Dia yang memberiku arti dari sebuah kata jodoh"
Semua pikiran itu bertengkar semakin hebat. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana cara menyelesaikan ini? Langkah apa yang harus kubuat? Tolong siapapun beri aku jawaban. semakin aku mencari semakin hancur raga ini, bagaikan sayatan kecil yang perih. semakin masuk kedalam hati dan pikiran, semakin banyak pula sayatan ini.
Apakah jawaban dari semua ini, siapapun, raga ini sudah tidak merasakan hati dan pikirannya hingga akhirnya semakin tenggelam.
Apa yang harus kulakukan?
Comments
Post a Comment