Insisi
Awal seperti tak berasa
Tetapi saat aku menyadarinya, rasanya perih dan sangat menyayat. Saat itu ku berharap aku tak pernah menyadarinya karena dengan itu aku tak perlu lagi merasakan perihnya. Semakin ku mencoba untuk melupakannya semakin dia berusaha untuk mengingatkan betapa sakitnya rasa itu.
Tidak tahu sejak kapan kudapatkan hal tersebut, sebelum kusadari rasanya hanya damai dan sukacita tanpa adanya suatu hal yang mengganjal.
Kenapa harus menyadari hal ini? Bisa kah aku berusaha untuk melupakannya? supaya aku tetap dapat merasakan ketenangan walaupun ini hanyalah sebuah fatamorgana.
Huft... terkadang rasa ini sungguh melelahkan sampai melinangkan air mata walau hanya untuk sesaat. Ketika ku mencoba untuk bertahan, rasa perih ini seakan akan "menantang" dan "mempertanyakan" raga ini bahwa apakah aku mampu menghadapi rasa tersebut.
.
.
.
.
Waktu kian berlalu, hingga akhirnya aku mencoba untuk melupakannya. Tapi apalah daya saat dirimu yang tiba tiba "muncul" disaat aku merasa bahwa "aku sedang baik baik saja".
Dirimu tiba tanpa memberikan sambutan yang hangat, hanya rasa dingin dan perih yang kau berikan dan tinggalkan kepadaku. Rasa ini menyayat nyata sampai ke relung tubuhku sampai aku tak mampu lagi menegakkan kakiku.
Tolong jangan lagi tiba.
Jika harus tiba, tolong buat aku tidak tersadar akan rasa ini, supaya aku dapat menikmatinya hingga aku dapat merelakannya.
Comments
Post a Comment